Vol. 1 (Reissue)

by The Sastro

supported by
dony13
dony13 thumbnail
dony13 Pernah punya kasetnya dan entah kenapa lebih suka dengan versi kaset yg diupload di joox dengan suara yg “mendem”
/
1.
09:25
Instrumental Composition
2.
05:10
Tempat kenangan tercipta Dari baris senja terkunci Tiba dikota yg sama Berbicara terpaku tak terdengar suara Berat nafasku terikat, salemba menyimpan jiwa Beku rintik hujan mengurung kenangan… Tajam tatapan matamu Membunuh jiwa dan raga Maafkan aku jakarta Tentang kenangan lama akhir pekan berdua Usai di usia muda, senja menembus surga Ada bayang menghalang terjebak dalam hujan Hujan deras di jakarta Memburu jiwa dan raga Masih di kota yang sama Berbicara terpaku dan terdengar suara Berat nafasku terikat, salemba menyimpan jiwa Beku rintik hujan membunuh kenangan… Sengaja kukenang bagian lain dimata Jejakku, kisah dijiwaku kurangkaikan Dalam lamunan kota jakarta yg hujan…
3.
04:24
Sejauh mencari hidupku ilusi Sendiri pahami apa yang kucari Sejauh langitku mencari Menanti hangatmu mentari Sejuta cahaya galaksi Kuhisap indahnya ilusi Kuingin sendiri, yakinkan hari ini Sebelum terjadi, pergilah dari sini Sejauh langkahku terhenti Menunda waktu yang terjadi Menahan setelah kau pergi Menanti apa yang kucari Biarkan ku mencari hilangnya hari-hari ini Terangi jalan kembali disini kusendiri
4.
04:27
Lari 100 di kota ini Lepaskan diri hindari waktu Lari 100 di sore ini Larikan diri dari nafsu Lari 100 menembus waktu Memutar jalan kehidupanku Diam sembunyi di senja biru Takkan peduli kala sesuatu Satukan langkah, diami massa Sudut bergema riang bertabuh Hitam menjelma singkirkan massa Tertinggal jauh diam membisu Lari 100 di kota ini Lepaskan diri hindari waktu Lari 100 di sore ini Larikan diri dari nafsu Larikan langkah, diami massa Sudut bergema riang bertabuh Hitam menjelma singkirkan massa Tertinggal jauh diam membisu Lari 100 menembus waktu Memutar jalan kehidupanku Diam sembunyi di senja biru Takkan peduli kala sesuatu Satukan langkah, diami massa Sudut bergema riang bertabuh Hitam menjelma singkirkan massa Tertinggal jauh diam membisu
5.
06:06
Diriku.. Tatap luas angkasa Begitu luas diatas jiwa Tersentuh… Indah bumi berkata Kupercaya semua yang ada didunia Cahaya.. Dari sinar purnama Sinar kecil isyarat arti jiwa Kuingin selamanya disini Bersama embun malam Membasuh wajah dunia Dengan bualan Diriku.. Terjebak dalam malam kau disini Mengganggu dalam mimpiku.. Diriku.. Merindu peluk hangat Samudera biru… Dirimu.. Menjebak dalam malam ku disini Mengganggu dalam mimpiku.. Diriku.. Merindu peluk hangat Samudera biru…
6.
05:22
Kuhanya berbicara sendiri Bicara dan tak kembali Menebar racun dihati Masihkah tersesat dalam tawa Kemana angin menerpa? Terhempas menjelang kau tiba Tak dapat selalu Bersama sesaknya caramu Jawablah karena ku tak tahu Siapakah bayang dirimu Biarkan diriku mencoba Berjalan melintas dunia Bebaskan mulutmu bicara Biarkanlah kita berjumpa Biarkanlah ku menunggu Tibanya senyum sesakmu Tapi ku tak mampu Mengingat wajahmu… Rasuna… Back to verse Demi waktu ku tak tahu Tibanya langkah kakimu Katakan sesuatu siapa dirimu Biarkanlah ku menunggu Tibanya senyum sesakmu Tapi ku tak mampu Mengingat wajahmu… Back to reff Rasuna…
7.
05:57
Kumasih tak dapat memahami Hanya pagi mencoba Awali semua dalam tanda tanya Sesaat namun menyiksa jiwa Datang dan pergi aku tak mengerti Dari jalanan sepi seperti mereka Menatap malam penuh curiga Kau mencoba.. Memaksaku bicara Haruskah dengan senjata Kumasih tak percaya Kumasih tak dapat menjawabnya Dimana malam berada Akhiri semua lenyap tak tersisa Senjata ditangan siap melintang Seranglah saja buktikan caranya Banyak sudah meminta jiwa Telah terpikir banyak bicara Tiba-tiba Darah dan luka di jalan utama Kau mencoba.. Memaksaku bicara Haruskah dengan senjata Dan ku tak berselera
8.
03:20
Jangan… Halangi aku menjadi Semakin dekat dibalik mimpi-mimpi Kini nyata dan terus semakin nyata Maka kadang otakku hilang Menjelang malam yang mencekam Mencekam.. Terus menjadi… Menjadi logika pandangan mu Kini nyata dan terus semakin nyata Jangan… Halangi aku menjadi Semakin dekat dibalik mimpi-mimpi Kini nyata dan terus semakin nyata Maka kadang otakku hilang Menjelang malam yang mencekam Mencekam.. Terus menjadi… Menjadi logika pandangan mu Sempat menghasut membawa rindu.. Kurindu….

about

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Liner Notes

Mereka ceking-ceking, Agung Sastro Wibowo tampak cukup rapi tapi gembel, di matanya ada matahari yang hampir terbenam, di saat lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Dia penulis lirik yang perasa, gelisah, dan bersembunyi. Suaranya sayup-sayup, lirik-lirik yang terdengar samar bagaikan sandi, sementara kord-kord gitar dia pukul satu-satu, sesekali dikocok bersama geram atau melankoli.

Ary Buy bermain bas seperti jelmaan indie rock 1980an, menikmatinya dengan takaran, suka cita yang tidak belebih.

Ritchie Ned Hansel tampil dengan rambut berantakan yang tertata, jari-jarinya terus bergerak rapat di fret gitar, memainkan jangly dalam kehanyutan yang akut.

Sementara Rege memainkan hi-hat penuh hasrat, masih bersama keseleboran, serasa Stewart Copeland versi mahasiswa yang tahu bahwa sebentar lagi ia putus cinta.

Ketika memainkan lagu tanpa vokal berjudul “plazamaya”, mereka layaknya empat pilot yang menerbangkan pesawat dengan remote control masing-masing di genggaman, hasil modifikasi dari pasar loak; rendah, tinggi, beratraksi, terjebak di rute angkasa, menggoda landasan. Hujan rasa begitu lebat. Dari kuping ke kepala, ke hati, ke kaki, ke pembuluh warna-warni. Di sisi lain, mereka menyalakan “Lari 100” dengan pedal yang dalam ditusuk-tusuk tangkai bunga, dan tak tertarik pada belokan. Di lagu “Rasuna”, mereka memainkan sound effect yang begitu kekanak-kanakan, seperti memberi tahu bahwa masih banyak endapan cahaya dari masa kecil mereka.

The Sastro hadir bersama anomali, oplosan yang serampangan dirangkai memesona. Bagaimana mungkin The Smiths, Rush, dan polusi gelap anak muda penyuka seni meradang di dalam paru-paru yang sama?

Dari selebrasi sektoral panggung-panggung kecil, tulisan di fanzine (Jimi Multhazam dari The Upstaris mendeskripsikan The Sastro dengan sangat cocok di sebuah edisi Eve Zine), ke kompilasi JKT: SKRG, merilis kaset album Vol.1 (bersama sampul album ikonik dan video musik “Lari 100” yang lusuh melekat), The Sastro lekas membuat kami menoleh. Saya bahkan terlalu sering memutar kaset mereka. Ketika hal itu terjadi di mobil, saya menyimpan The Sastro lebih dalam lagi. Untunglah, saya dan kaset itu sama-sama tidak kusut.

Hari ini sudah sangat jauh dari pertama The Sastro banyak bermain dan diputar. Belasan tahun. Sudah banyak band lain yang bermunculan, perayaannya di mana-mana. Kenapa album ini datang lagi?

Setelah kaset dan pernah menjadi piringan hitam, kini berformat Compact Disc. Anoa Records ingin memudahkan akses Vol.1 untuk lebih mudah didengar, dihidupi, dikoleksi dengan senang hati. Saya masih melebarkan lengan menyambutnya. Karena sebelumnya sampai sekarang, kita dan musik hanya punya satu The Sastro saja.

Salam,
Harlan Boer

-----------------------------------------------------------------------------------------------

credits

released April 25, 2005

-----------------------------------------------------------------------------------------------

The Sastro Are
Agung Sastro Wibowo - Vocal & Guitar
Ary Buy Shandra - Bass Guitar
Rege Luhur Indrastudianto - Drums
Ritchie Ned Hansel - Guitar

The Sastro Vol.1 Cassette 2005
Producer: Reza Yahya Sumendap
Co. Producer: The Sastro & Rendy Agung Prasetya
Executive Producer: Kenanga Records
Recording, Mixing & Mastering at Kamar Angga Studio
Engineered by Erlangga Ishanders & Ritchie Ned Hansel
Mixing & Mastering by Erlangga Ishanders
All Music by The Sastro
All Lyrics by Agung Sastro Wibowo
Additional Keyboard & Programming by Erlangga Ishanders
Sampling & Synth by Ritchie Ned Hansel & Erlangga Ishanders
Graphic Design by Rege Luhur Indrastudianto
Artwork & Installations by Ary Buy Shandra
Special Font & Logo Design by Ritchie Ned Hansel
Cover Photography by Adji Dimas Ramayanda & Kefas Sendy

The Sastro Vol.1 Vinyl Record 2015
Executive Producer: Majemuk Records
Master License: Anoa Records & Kenanga Records
Digital Distribution: Anoa Records
Supported by SG
Thanks to Artha Satya, Imam Buana &
Tahta Prawiratama as Satya Garment
Cover Re-designed by Ritchie Ned Hansel
Photo Documentation by Aryo Sayogha & Kefas Sendy
Documentation Circa 2001 - 2006

(C)+(P) Anoa Records. 2018.
All rights reserved and unauthorized public performance, broadcasting or copying of this copyrighted records is prohibited.
ANOA000
-----------------------------------------------------------------------------------------------

license

all rights reserved

tags

about

Anoa Records Jakarta, Indonesia

An indie label records from Jakarta Indonesia. Since 2013, listening to indierock, indiepop, shoegaze, pop punk, and so on from local bands.

"If we believe in something we hear, it's better to record it."

if you want to purchase the CD please email us first at paw@anoarecs.com for the availability.
... more

contact / help

Contact Anoa Records

Streaming and
Download help

Redeem code

Report this album or account