Holy Noise - Indonesian Shoegazer Compilation

by Various Artists

supported by
Paul Jacobson
Paul Jacobson thumbnail
Paul Jacobson nice little collection of tracks. a couple aren't really shoegaze–they're more synth based type stuff. a handful of the tracks are really good, but most are forgettable. Favorite track: Martir.
/
  • Streaming + Download

    Includes unlimited streaming via the free Bandcamp app, plus high-quality download in MP3, FLAC and more.

    Includes ready to print Compact Cassettes Templates.

      $7.69 USD  or more

     

  • Full Digital Discography

    Get all 9 Anoa Records releases available on Bandcamp and save 35%.

    Includes unlimited streaming via the free Bandcamp app, plus high-quality downloads of Singgah Dunia, Essays, Live, Vol. 1 (Reissue), Holy Noise - Indonesian Shoegazer Compilation, Black Mustangs, Barefood EP, Sullen EP, and 1 more. , and , .

      $22.69 USD or more (35% OFF)

     

  • Limited Numbered 200 copies Compact Cassette
    Cassette + Digital Album

    Holy Noise - Indonesian Shoegazer Compilation, Cassette, Cover Sleeve, Liner notes by Arian13, Anoa DDV (Digital Download Voucher), Bonus Anoarecs.com sticker. Only 200 copies available.

    Includes unlimited streaming of Holy Noise - Indonesian Shoegazer Compilation via the free Bandcamp app, plus high-quality download in MP3, FLAC and more.

    Sold Out

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

about

*********
Holy Noise - Indonesian Shoegazer Compilation
Liner notes by Arian13, Seringai. (@aparatmati)

Dua puluh lima tahun lalu, tidak ada scene independen, apalagi scene indiepop atau shoegaze. Kecenderungan musik di era '90an pada waktu itu adalah metal dan punk rock yang kerap disebut sebagai musik underground, yang memang secara networking sudah mapan sehingga eksistensi para band-band ini cenderung lebih 'mudah'.

Besar di Bandung, saya beruntung mendapat kesempatan melihat Cherry Bombshell formasi awal dengan vokalis Alexandra Wuisan di penghujung tahun '90an. Karakter vokal Sandra, begitu membius dan menghanyutkan, sedikit mengingatkan saya kepada Cocteau Twins. Bersama Alexandra, Cherry Bombshell sempat merilis sebuah mini album dalam format kaset, 500 keping dan tidak pernah dirilis ulang lagi.

Tidak lama Alexandra mengundurkan diri, dan membentuk Sieve, yang sayangnya tidak lama aktif namun saya beruntung mendapatkan rilisan kasetnya, Biara, dan sempat menonton live mereka beberapa kali. Ketika Sieve eksis, sudah ada band The Milo, yang mengambil jalur musik yang sedikit berbeda dengan Sieve tapi searah. Sedikit ethereal dreampop, shoegaze, dengan sentuhan goth.
Frontman/gitaris The Milo, Ajie Gergaji, dulu merupakan gitaris band metal/alternatif Life At Pawn, dimana drummernya, Edy Khemod, kini adalah drummer Seringai. Dan mengingat motor/gitaris Cherry Bombshell, Harry Ajo, juga adalah gitaris Puppen, saya pikir dulu scene musik underground awal memang cukup openminded. Semangatnya, adalah saling dukung atau membuat proyek musik yang berbeda dengan musik yang biasa dimainkan, dalam hal ini metal atau punk rock.

Saya jadi teringat foto band di album band grindcore Napalm Death Utopia Banished, dimana gitaris Mitch Harris mengenakan sebuah t-shirt Curve, dan interview Justin Broadrick dari Napalm Death/Godflesh yang menyebutkan kalau My Bloody Valentine adalah salah satu musik favoritnya. Pada saat itu, informasi seperti ini adalah mindblowing. Mungkin hal-hal seperti ini dulu seperti 'mendorong' para musisi underground lokal untuk memproduksi musik lain diluar metal atau punk rock.

Anyway. Fast forward lima belas tahun silam di Jakarta, yaitu scene BB's dan Parc, dua bar yang rajin mengadakan event-event musik non mainstream. Dari The Upstairs, Sajama Cut, That's Rockafeller, hingga The Sastro. Salah satu yang menyita perhatian saya adalah ketika menonton Sugarstar. Aransemen dan sound mereka sangat bagus. Band shoegaze ini sebenarnya sudah eksis sebelum scene BB's dan Parc ada, dan memang saya pernah mendengar band ini direkomendasikan oleh seorang teman. Membuat saya bertanya-tanya, di Indonesia sudah sebanyak apa ya scene musik seperti ini? Dari beberapa kota besar, mungkin ada band-band sejenis, tapi sayangnya seperti Sugarstar, jarang ada yang akhirnya merilis rekaman dan terdokumentasikan secara rekaman.

Fast forward 10 tahun lagi, hari ini. Yang sedang kalian pegang sekarang adalah sebuah kompilasi shoegaze pertama dari Indonesia. Kompilasi indie pop cukup banyak, tapi kompilasi yang spesifik mendokumentasikan band-band shoegaze/dreampop yang signifikan, adalah kaset yang sedang kalian pegang ini.

Menakjubkan mendengarkan satu demi satu sound shoegaze/dreampop yang berbeda. Dari old timers seperti Ajie Gergaji, Elemental Gaze, Poptart, hingga yang terbaru seperti Seaside dan Treasure Hiding. Beberapa band malah berisikan pemain-pemain lama! Tetapi tetap saja, exciting. Menyenangkan mendengarkan band yang membawakan musik yang tidak umum ini. Saya berharap semua band yang ada di dalam kompilasi ini berhasil merilis album, dan bahkan aktif dalam waktu yang lama. Masih banyak pekerjaan rumah kita untuk membuat scene ini lebih hidup, dan tidak ada yang bilang itu sebuah hal yang mudah. Let's go.

*********

credits

released February 1, 2015

Liner notes written by Arian13
Produced by Anoa Records
Mastered by Ababil “Ash” Ashari (Ashmixingandmastering.com)
Graphic Design by Ritchie Ned Hansel
Published by Anoa Records, All tracks courtesy of the bands.
Copyright of Anoa Records 2015.

All rights reserved and unauthorized public performance,
broadcasting or copying of this copyrighted records is prohibited.
Anoarecs.com © Anoa Records 2015.

tags

license

all rights reserved

about

Anoa Records Jakarta, Indonesia

A home of cool & kick ass music. If we believe in something we hear, it's better to record it.

contact / help

Contact Anoa Records

Streaming and
Download help

Redeem code